Wednesday, December 2, 2015

Kebaikan yang Menular

Seperti biasa, pagi ini aku berangkat ke kantor naik KRL. Berangkat dari rumah ke Stasiun Rawabuntu jam setengah tujuh lewat, dan selalu macet.

Sesampainya di Stasiun, Kereta yang biasa kunaiki pada pkl 06.48 sudah berangkat. Jadilah aku menunggu kereta selanjutnya.

Rupa-rupanya jadwal kereta hari ini kacau. Yap, Kereta telat alias tidak on time. Kami menunggu sangat lama, jauh dari jadwal. Alhasil, penumpang di Stasiun semakin menumpuk banyak.

Kemudian datanglah si kereta - yang mana bukan jadwalnya - yang ditunggu kami semua. Masuklah kami ke dalam gerbong yang sudah cukup penuh membawa penumpang dari stasiun-stasiun sebelumnya.

Aku memilih masuk di gerbong campuran daripada gerbong khusus wanita. Kenapa? alasannya adalah sadis! haha
Sudah bukan rahasia umum lagi mengenai fakta fenomena gerbong khusus wanita tersebut. Kalau ingin merasakan, naiklah kereta di gerbong khusus wanita pada jam-jam berangkat dan pulang kantor.

Saya masuk dan langsung mengambil posisi berdiri -karena kereta sudah penuh-dibagian agak tengah supaya tidak terlalu tertekan dorongan-dorongan penumpang lain yang akan masuk di Stasiun-stasiun selanjutnya.

Kereta pun berjalan, kondisi gerbong masih lumayan 'lega' untuk berdiri dengan berpegangan pada gantungan diatas kepala sertan memainkan gadget untuk mengusir kantuk dan bosan.

Hingga 1-2 stasiun selanjutnya, kondisi makin penuh efek dari kereta yang terlambat sehingga mengakibatkan penumpang menumpuk di tiap Stasiun.

Sampai di Stasiun Jurangmangu, saya mulai terdorong-dorong sehingga membuat saya harus lebih fokus berpegangan pada gelantungan dan memaksa saya untuk memasukan gadget ke dalam tas.

Beberapa saat kemudian, bapak-bapak yang duduk di depan saya bangkit, dan memberikan tempatnya kepada saya. Alhamdulillah.. dapet tempat duduk juga.

Bahagia dan beruntung sekali apabila mengalami hal seperti ini. Jarang sekali men! Jakarta keras hahaha

Duduklah saya ditempat bapak yang sebelumnya. Disamping kanan saya seorang wanita tertidur dan disamping kiri saya ada dua orang bapak-bapak juga.

Ketika kereta hendak berangkat, bapak disebelah kiri saya memberikan tempat duduknya tersebut kepada seorang ibu yang tengah berdiri di depannya.

Setelah itu, bapak satunya lagi yang diujung pun melakukan hal sama, bangkit dan memberikan tempat duduknya untuk seorang wanita yang berdiri di depannya.

Alhamdulillah, begitu ternyata sebuah Perilaku/tindakan bekerja, dan menularkan ke lingkungan yang ada di sekelilingnya.

Manusia itu punya sifat yang beragam bentuknya. Tidak dipungkiri, saya sendiri masih memiliki berbagai habit alias kebiasaan yang buruk mapun baik.

Nah, bagaimana kalau kita memulai untuk melakukan kebiasan-kebiasaan kecil yang bisa memberi efek positif bagi lingkungan, seperti : membuang sampah pada tempat sampah, antri, mematuhi rambu lalu lintas, mendahulukan orang yg lebih membutuhkan ketika di tempat umum, berbicara sopan dan halus, dan lain sebagainya yang pasti masih banyak lagi bentuknya.

Saya percaya, perilaku manusia itu terbentuk dari lingkungan dan habit. Mulai sekarang, mari kita melakukan hal-hal positif yang sederhana saja, Niscaya akan memberikan efek domino yang luar biasa bagi alam dan lingkungan sekitar ^^

Salam,
bluebiru

Sunday, June 21, 2015

Separuh hati

Bukankah ini yang selama ini aku tunggu-tunggu? Tapi mengapa perasaan ini belum sepenuhnya sadar? Seharusnya kala ini aku tengah berada dalam euforia kebahagiaan akan hal yang telah aku idamkan.

Aku tahu, masih ada sebagian hati yang tertinggal ditempat itu. Masih ada pekerjaan yang belum sepenuhnya selesai. Masih belum ada kata yabg terucap secara baik.

Mudahkanlah, lancarkanlah ya Rabb.

Semoga awal ini menjadi keberkahan hingga nantinya.

Meski aku serasa kehilangan separuh hati.

Tuesday, May 12, 2015

Kebablasan

Waktu :
Senin, 11 mei 2015

Tempat kejadian:
KRL dari rawabuntu menuju tanah abang. Gerbong khusus wanita paling depan.

Kondisi:
Pemberangkatan jam 6an pagi hari, Desak-desakkan.

Jadi, saat ini saya sedang berada dalam perjalanan mencari ilmu (baca: demi sesuap nasi). Berangkat dari rumah tante di puri serpong 2, naik kereta commuter line (KRL) dari stasiun rawabuntu menuju pondok cina. Dan rute ini mengharuskan Saya transit di stasiun tanah abang, untuk berganti kereta ke arah stasiun pondok cina.

Sudah bukan pemandangan yg ajaib lagi bagi saya, menyaksikan keramaian lautan manusia berdesak-desakkan dalam gerbong kereta. Saya memilih gerbong khusus wanita karena setidaknya ketika Saya berdesak-desakkan saling himpit, sekeliling Saya adalah kaum hawa semua, sejenis, meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Dengan kondisi yang masih terkantuk-kantuk akibat semalam begadang berjuang mendapatkan tiket kereta tambahan utk mudik lebaran yang sial nya websitenya pun error ketika diakses sehingga  tidak tersisa kursi kereta tambahan yang diinginkan. Tetapi dengan bermodal serpihan harapan akan adanya sisa-sisa kursi yang mungkin saja masih ada, saya mulai berselancar mencarinya dengan khidmat dan cermat.

Di samping Saya, ada segerombolan ibu-ibu yang sedang mengobrol ceria. (Baca: kami dalam kondisi berdiri karena tidak kebagian tempat duduk). Saya masih asik sendiri berkutat dengan handphone berharap menemukan keajaiban ada sisa tiket yahud tertera. Salah seorang ibu tersebut bercerita, tentang anaknya yang sepulang kerja naik KRL, karena saking lelahnya mungkin dia tertidur di kereta, dan kebablasan dari stasiun tujuannya pulang. Saya yang mendengarnya hanya geleng kepala, "ah..untung aku gapernah kaya gitu" batin saya. Seram juga masalahnya malam-malam, kebablasan di stasiun kecil, dan lagi kalau masih ada kereta, itupun lama dan dijamin sepinya luar biasa. Kenapa saya bisa bicara begini?

Jadi hari ini, Selasa, 12 mei 2015, saya sehabis tertimpa musibah yang sama seperti anak ibu dalam cerita di atas. Yap, saya dalam perjalanan pulang dan karena kelelahan saya tertidur di kereta. Satu stasiun sebelum stasiun tujuan, (baca: sudimara), saya masih setengah sadar bahwasannya sebentar lagi saya sampai. Tidak lebih dari 5 menit. Mungkin tidur sebentar lagi bakal pas sampai di rawabuntu. Kemudian sayup-sayup saya membuka Mata, dan tepat, kereta hendak berhenti. Ketika kereta akan berhenti di suatu stasiun, akan ada pengumuman pengingat nama stasiun yg akan disinggahi. Dan terdengarlan suara pengumuman tersebut, namun bukan stasiun rawabuntu yang saya dengar, melainkan cisauk.

Paniklah saya, kagetlah saya. Sampai bapak-bapak didepan saya juga bisa membaca raut muka saya yang tengah kebablasan ini. Sekarang sudah pkl 09.35 pm. Waktu malam, namun belom begitu malam banget. Panik. Tapi masih besar harapan akan kereta kembali yang berbeda arah yang akan datang lagi. Hanya saja permasalahannya adalah sendiri dan sepi. Mana stasiun kecil. Tambah sepi. Tidak karuanlah saya. Segera saya mengabari tante dirumah dan om yang sudah menunggu di stasiun rawabuntu utk menjemput saya.

Kemudian saya menyeberang ke jalur sebelah, menunggu kereta berbeda arah yang dapat mengantarkan saya kembali ke rawabuntu. Untunglah saya hanya kebablasan 2 stasiun saja. Saya segera duduk di kursi yang dekat dengan Peron karena posisi stasiun yang sudah sunyi senyap. Beberapa saat saya duduk, lalu karena panik sudah cukup malam, saya bangkit memutuskan bertanya kepada satpam mengenai jadwal kereta yang dapat membawa saya kembali ke tujuan semula.

Beberapa langkah saya jalan, terdengar pengumuman akan segera tiba kereta yang saya tunggu. Alhamdulillah.. Lega hati saya.

Pelajaran malam ini adalah, ketika sudah tersadar lokasi tujuan sudah dekat, cepat-cepatlah sadarkan diri agar tidak terjadi keteledoran seperti ini. Alhamdulillah.... Masih diberi keselamatan sampai rumah lagi. Selamat beristirahat, blue!! :)

Thursday, May 7, 2015

Hey..

Mama... Bapak.

Luruh sudah seluruh pedih di hati ini. Aku tak mampu menahan beribu-ribu air mata yang terus saja membuncah keluar bak Mata air penghidupan.

Lelahmu...

Air matamu...

Doa-Doamu...

Semoga menjadi jalan lapang menuju surga.

Anakmu yang akan selalu ingat seluruh jerihpayahmu.

Monday, April 13, 2015

Hey! Kamu tidak pernah sendiri. Allah selalu memberikan pertolongan-pertolongannya melalui berbagai macam hal yang tidak kamu sangka. See... Don't worry.. keep trying and trying!

Wednesday, October 29, 2014

Cirebon

Malam kedua dan sudah masuk angin. Ringkih amat kamu ren -,- padahal anak gunung, tp sekarang angin-anginan dikit langsung melempem. Huft..

Kaya gini tuu jadi keinget semasa kkn. Ada posko, berlimpah makanan, program kerjanya ya ngaudit ini. Jalan-jalan ke anak cabang ya ibarat proker sodialisasinya gitu. Hahaha... ya.. anggap saja demikian. Karena kalo dipikir blibet yang ada malah setres sendiri.

Bersyukur sekali, diberikan kesempatan belajar ngaudit, apalagi bersama teman-teman satu almamater (elang, dinda, bisma), dan juga para senior yang baik hati. Dan lagi.. klien yang mencukupi segala kebutuhan hidup disini. Alhamdulillah ya allah.. semoga ini semua berkah, dan diberikan kelancaran sampai akhir januari mendatang. Amin.....

Kangen sama rumah dan seisinya, kangen tidur di kamarku, kangen temen-temen nongski, kangen kamu!

Oke, selamat beristirahat. Semoga anginnya pada mental biar besok fit lanjut ngaudit lagi. Yop, selamat malam blue!

Thursday, October 23, 2014

Lamongan

Semuanya berawal dari satu bulan yang lalu, dimana dua orang kakak yang miris melihat adiknya sebegitu menyedihkannya. Haha..

Akhirnya, terencanalah sudah, tour de lamongan. Tujuannya apa kamu tau? Kondangan. Hahaha....sejauh itu dari purwokerto ke lamongan, demi mendatangi walimah dari si pendiri eiger, mas dadut. Yap, awalnya tidak menduga dan entahlah tetapi aku menantikannya. Mungkin karena sudah lama diam, dan juga butuh hiburan berkelana atau hanya menikmati senja di luar kota. Hihi

Sempat meragu antara iya dan tidak, karena hari itu bertepatan pula dengan jadwal tes ojk. Dan akhirnya dengan berbagai pertimbangan berangkatlah ke lamongan. Berkendara mobil dari purwokerto menuju yogyakarta, lalu lanjut menuju lamongan. Ini seperti jelajah propinsi yah. Haha

Lamongan itu panas. Super panas. Anginnya kering. Tapi.... moment bersama orang-orangnya lah yang aku suka. Kita gatau, esok atau lusa kita masih bisa berjumpa dengan orang lain. Kadang hal seperti itu yang membuatku 'sayang' untuk melewatkan momen momen kebersamaan, perjumpaan, gathering dsb. Entahlah... rasanya akan sangat menyesal untuk melewatkannya.

Ada beberapa bagian dari perjalanana ini yang aku suka. Tetapi, mungkin akan lebih baik untuk kusimpan sendiri.

Yap, selamat atas pernikahan om dadut. Setelah ini pasti adek-adeknya bakal banyak yang menyusul. Kita lihat saja nanti, semoga masih akan ada cerita perjalanan lainnya lagi. Yuhu!